Popularity: 3% [?]
June 21st, 2010
admin
Popularity: 3% [?]
June 21st, 2010
admin
Popularity: 2% [?]
June 21st, 2010
admin
Popularity: 2% [?]
June 18th, 2010
admin Cobalah untuk mengawali suatu hari anda degnan niat untuk memeberi. Mulailah dengan sesuatu yang kecil yang tak terlalu berharga di mata anda. Mulailah dari uang receh. Kumpulkan beberapa recah yang mungkin tercecer di sana-sini, hanya untuk satu tujuan : diberikan. Apakah anda sedang berada di bis kota yang panas, lalu datang pengamen bernyanyi memekakkan telinga atau, anda sedang berada dalam mobil ber-ac yang sejuk, lalu sepasang tangan kecil mengetuk meminta-minta.
Cobalah untuk mengawali suatu hari anda degnan niat untuk memeberi. Mulailah dengan sesuatu yang kecil yang tak terlalu berharga di mata anda. Mulailah dari uang receh. Kumpulkan beberapa recah yang mungkin tercecer di sana-sini, hanya untuk satu tujuan : diberikan. Apakah anda sedang berada di bis kota yang panas, lalu datang pengamen bernyanyi memekakkan telinga atau, anda sedang berada dalam mobil ber-ac yang sejuk, lalu sepasang tangan kecil mengetuk meminta-minta.
Tak peduli bagaimana pendapat anda tentang kemalasan, kemiskinan dan lain sebagainya. Tak perlu banyak pikir, segera berikan satu dua keping pada mereka. Barangkali ada rasa neggan dan kesal. Tekanlah perasaan itu seiring dengan pemberian anda. Bukankah, tak seorang pun ingin memurukkan dirinya menjadi pengemis. Ingat, kali ini anda hanya sedang “berlatih” memberi, mengulurkan tangan dengan jumlah yang tiada berarti?
Rasakan saja, kini sesuatau mengalir dari dalam diri melalui telapak tangan anda. Sesuatu itu bernama kasih sayang.
Memberi tanpa pertimbangan bagai menyingkirkan batu penghambat arus sungai. Arus sungai adalah rasa kasih dari dalam diri. Sedangkan batu adalah kepentingan yang berpusat pada diri sendiri. Sesungguhnya, bukan receh atau berlian yang anda berikan.Kemurahan itu tidak terletak di tangan, melainkan di hati.
Popularity: 2% [?]
June 18th, 2010
admin Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, “Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu.”
Pria itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau.” Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.
Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, “Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?”
Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.
Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.
Popularity: 2% [?]
August 20th, 2009
admin
Kadng kita dibuat terkagum-kagum dengan anak-anak yang telah mampu mengukir prestasi diusia mereka yang masih sangat muda. Sama halnya yang terjadi pada Zhang Xinyang, Anak Ajaib dari Tiongkok Umur 13 Tahun, diusianya yang masih belia dia sedang melanjutkan kuliahnya pada program Pascasarjana Universitas Teknologi Beijing.
Zhang Xinyang mengambil jurusan yang jarang diminati oleh kita pada umumnya. Jurusan yang diambil adalah jurusan Matematika. Untuk Gelar S-1 Zhang Xinyang menempuh jurusan Matematika di Universitas Teknik Tianjin. Perjalanan akademik Zhang memang membuat banyak orang terkesima. Pertama mulai merasakan suasana sekolah SD pada umur lima tahun, Zhang kecil cukup menammatkan sekolahnya hanya butuh waktu dua tahun. Melanjutkan pendidikan di tingkat yang lebih tinggi jenjang SMP dan SMA juga dijalaninya dengan kilat. Di usianya 10 tahun Zhang telah terdaftar sebagai mahasiswa matematika di Universitas Teknik Tianjin.
Zhang memang benar-benar menggandrungi matematika. Demi mewujudkan mimpinya sebagai pakar matematika, dia benar-benar menggembleng diri. Ia juga menyiapkan betul ujian masuk perguruan tinggi (NCEE) sedari awal. Usahanya tidak sia-sia. Zhang lulus ujian NCEE dengan skor 505, atau 47 poin di atas skor rata-rata.
Kecintaannya membaca buku termasuk buku di luar studinya, membuat Zhang hanya butuh kurang dari tiga tahun dari jatah empat tahun, untuk menuntaskan skripsi. Kita mungkin mengangagap Zhang sebagi anak seorang dosen, karena saking mudanya. Walaupun usianya masih cilik ia tidak mau berdiam diri begitu saja, Zhang juga memulai belajar mandiri dengan menjadi tutor matematika paruh waktu.
Hal yang di alami oleh Zhang bukanlah hal yang ajaib dan bukan hanya semata-mata berupa give dari ilahi , tetapi karena talent dan pola didikan yang telah dialami oleh sak anak dari orang tuanya. Sang anak telah diajarkan nilai-nilai kerja keras dan berani untuk mengejar impian sedari mereka masih kecil. Sama halnya dengan professor termuda Amerika Serikat yang asli orang Indonesia yang prestasinya diakui dunia internasional. Pria kelahiran Medan 20 Oktober 1977, sejak kecilnya telah bermimpi untuk menjadi pendidik di luar neger. Keinginan besar untuk mencapai hal tersebut karena dorongan dan motivasi yang terus-menerus di berikan oleh kedua orang tuanya.
Contoh teladan yang sering diperlihatkan oleh kedua orang tuanya menambah semangatnya untuk terus mengejar impiannye tersebut. Akhirnya cita-cita itu semua saat ini bisa diwujudkan dan tidak tanggung-tanggung dalam usia yang sangat muda telah mendapatkan gelar professor. Nama professer muda tersebut adalah Nelson Tansu yang merupakan professor termuda yang dimiliki Amerika Serikat saat ini. Prof Nelson mengajar di Lehigh University salah satu universitas terbaik yang terdapat di negeri Paman Sam.
Titik balik riwayat pedidikan Nelson dimulai ketika dia menjadi lulusan terbaik SMU Sutomo 1 Medan 1995, dan termasuk dalam finalis Tim Olimpiade Fisika Indonesia. Sukses ini, kemudian berlanjut setelah dirinya mendapat tawaran beasiswa dari Bohn’s Scholarships untuk melanjutkan kuliah di jurusan matematika terapan, teknik elektro, dan fisika di Universitas Wisconsin-Madison, Amerika Serikat. Nelson memulai statusnya sebagai mahasiswa pada September 1995, dan meraih gelar bachelor of science hanya dalam tempo dua tahun lebih sembilan bulan, dengan predikat summa cum laude. Setelah merampungkan S-1-nya di bidang applied mathematics, electrical engineering, and physics pada tahun 1998. Saat ini Nelson yang asli Indonesia berdarah keturunan Tionghoa ini sudah meraih 11 penghargaan dan memiliki tiga hak paten atas penemuan risetnya. Memasuki usianya yang ke 25 tahun Nelson telah mengukir prestasi dengan berhasil meraih gelar PhD di University of Wisconsin, Madison, dan menjadi staf pengajar mahasiswa S-3.
Nelson menjadi profesor di universitas ternama Amerika, Lehigh University, Pensilvania, mengajar para mahasiswa di tingkat master (S-2), doktor (S-3), bahkan post doctoral Departemen Teknik Elektro dan Komputer. Lebih dari 84 hasil riset maupun karya tulisnya dipublikasikan di berbagai konferensi dan jurnal ilmiah internasional. Nelson telah menjadi bahan insprirasi bagi mahasiswanya sendiri, ia sering diundang menjadi pembicara utama di berbagai seminar, konferensi dan pertemuan intelektual, terutama di Washington DC. Selain itu, Nelson juga sering di undang oleh universitas yang berasal dari luar Amerika seperti Kanada, sejumlah negara di Eropa, dan Asia. Namun ada satu hal yang lebih fenomenal yang telah dihasilkan oleh Nelson yaitu ada tiga penemuan ilmiahnya yang dipatenkan di AS, yakni bidang semiconductor nanostructure optoelectronics devices dan high power semiconductor lasers.
Meski namanya sudah banyak dikenal di seluruh dunia, hanya sedikit yang tahu bahwa guru besar muda ini berasal dari Indonesia. Berkat prestasi Nelson Tansu yang luar biasa, ia sempat menjadi incaran dan malah “rebutan” kalangan universitas AS dan mancanegara.
Ditulis oleh : ASHAR HAFIDAH <ashar_arc@yahoo.com>
Popularity: 36% [?]
August 20th, 2009
admin Jika sempat jalan-jalan ke kota Pangandaran coba tanyakan siapa Ibu pangandaran, tertulah semua suara akan sama bahwa Ibu yang dimaksud adalah Susi Pudjiastuti, seorang sosok pebisnis tangguh yang memulai usahanya dari nol. Ibu Susi juga tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi dia hanya lulusan SMP, yang ketika SMA di drop out dari sekolah. Dengan berbekal modal 750 Ribu hasil menjual gelang, kalung, dan cincin miliknya, Susi mulai menjadi pengepul ikan pada tahaun 1983. Awal mulai usahanya dijalankan, dia hanya mampu membeli 1 kg ikan, besoknya mulai meningkat menjadi 2 kg, kemudian terus meningkat volume pembeliannya. Karena keuletan Ibu susi dalam waktu hanya satu tahun, ia sudah menembus pasar besar Cilacap, Jawa Barat.
Dari keuntungan yang ia tabung, Susi kemudian membuka usaha sewa-menyewa perahu serta mobil angkutan hasil-laut bagi para nelayan. Kini ibu susi telah memiliki ratusan perahu nelayan dan truk. Bu Susi memulai semua aktifitasnya setiap harinya mulai pada pukul 15.00, ia ke Jakarta untuk setor. Di tengah jalan, ia mampir ke Cikampek untuk mengambil kodok. Sampai di Jakarta malam. Setelah mandi dan istirahat ia langsung balik ke Pangandaran itulah aktifitas hariannya ketika usahanya mulai dikembangkan. Selama bertahun-tahun ia harus mendampingi pasokannya menempuh jarak ratusan kilometer pulang-pergi.
Pada tahun 1996 pasar lobster menjadi overload pabrik-pabrik yang semula menjadi pengumpul hasil laut dari bu susi banyak yang mempermainkan harga, dengan kejadian tersebut bu susi kembali memberanikan diri untuk langsung mengekspor hasil lautnya itu. Karena permintaan yang cukup tinggi dari pasar luar negeri maka Bu Susi nekad membeli dua pesawat Cessna Grand Caravan buatan Amerika Serikat pada tahun 2004, dan ternyata buah dari kenekatannya tesebut pemintaan dari luar negeri semakin banyak.
Untuk urusan kenayaman kerja dan meningkatkan produktifitas karyawannya Bu susi tidak tanggung-tanggung mendirikan pabrik yang mempunyai fasilitas yang sangat modern, yang disainnya bangunanya dibuat menyerupai mall. Nilai Omzet juga dalam jumlah yang sangat besar, yang pada saat awal pendirian PT ASI Pudjiastuti hanya sekitar US$ 2 juta membengkak, menjadi US$5 juta pertahun.
Ternyata untuk dalam menjalani kehidupan, kita harus berani berminmpi untuk menwujudkan hal-hal besar dalam hidup kita. Sama halnya dengan Ibu Susi, dengan impian yang besar dibarengi dengan keuletan yang tinggi, perempuan yang dulunya hanya menjual ikan dengan bakulan itu, kini telah menjual ikannya dengan pesawat terbang ke berbagai belahan dunia.
Kisah yang sama dialami oleh penjaga sekolah saya sewaktu masih duduk di sekolah dasar. Bapak tersebut hanya menjadi pesuruh biasa di sekolah, nasibnya berubah menjadi pengawas sekolah, yang bertugas mengawasi kinerja kepala sekolah yang ada di wilayahnya. Padahal pada awalnya dia hanyalah penjaga sekolah yang hanya bertugas sebagai “office boy”. Nama bapak penjaga sekolah itu adalah Dg.Nai* Senyuman yang khas dan sambutan yang selalu hangat tak akan pernah kami lupakan setiap siswa yang pernah sekolah di sekolah ini pasti mengenal dengan baik Dg.Nai.
Singkat cerita karena sikap yang ditunjukkan, dirinya penuh dengan nilai-nilai positif serta kerajinan dan ketekunan, maka pihak sekolah menjadikannya pegawai negeri untuk menjadi pesuruh sekolah. Setelah di angkat menjadi pegawai Dg.Nai tidak menyia-nyiakan waktu yang tertinggal, dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di D3, setammatnya di D3 Dg.Nai mulai mengajar anak-anak SD dan warungnya pun masih tetap buka. Lama berselang Dg.Nai masih terobsesi dengan mimpinya untuk menjadi seorang pengawas sekolah atau disebut dengan penile sekolah.
Sampai suatu ketika ada pengumuman penerimaan pegai khusus menjadi pengawas. Dengan modal tekad dan semangat dia yakin untuk lolos seleksi ditingkat propinsi. Padahal lowongan yang tersedia bisa dihitung jari sementara jumlah peserta yang terjaring mencapai ratiusan orang dengan jabatan rata-rata peserta adalah orang-orang yang telah menjadi kepala sekolah.
Ternyata Dg.Nai tidak ciut nyali sebaliknya dai bertabah semangat dan yakin bahwa dia akan terangkat menjadi pengawas. Semua orang menertawakan terhadap apa yang dicita-citakan Dg.Nai apalagi jika melihat latar belakang pendidikanny dengan modal pengalaman yang belum terlalu lama. Namun jawaban Dg.Nai jika mendapat ledekan dari teman-temannya Kita lihat saja nanti siapa yang akan tertawa.
Setiap malam Dg.Nai bangun sholat malam untuk mengajukan proposal kepada Allah untuk diangkat menjadi pengawas kepala sekolah. Karena doanya yang terus-menerus akhirnya Dg.Nai lulus seleksi dan diangkat menjadi pengawas sekolah, dia mengalahkan pesaing-pesaingnya yang rata-rata pernah menjabat kepala sekolah. Satu pesannya kepada saya ketika akan kembali ke Jakarta, bahwa hiduplah dengan mimpimu jangan pernah mematikan mimpimu.
Mungkin sama halnya dengan para kontestan Indonesian Idol yang memimpikan menjadi idola baru yang dan dipuja banyak orang, anda juga tentunya sering menyaksikan Indonesian Idol, pada penampilan kontestannya rata-rata masih muda dengan wajah dananan yang menarik, namun hal tersebut tidak berlaku di Inggris sewaktu diadakan konteas Britian Got Talent sama seperti American Idol, “Susan Boyle 47 tahun” saat berdiri di atas pangung Nampak seperti wanita yang datang dari kampung, jauh dari dandanan kelas artis, dia gemuk kikuk dan penampilan panggungnya pas-pasan, pada saat berdiri di atas panggung semua orang yang hadir pada tempat itu ingin melewatkan saja penampilan Susan. Namun semua keraguan tersebut dibalas oleh Susan, sewaktu mulai menyanyikan lagu opera, “I Dreamed a Dream” dari Les Miserables, semua mata menjadi takjub, suaranya yang sangat indah, sangat merdu, membuat para penonton berulang-ulang berdiri memberi tepuk tangan. Para juri Cowell, Piers Morgan, dan Amanda Holden, ikut terngaga mendengar suara menakjubkan Susan Boyle. Karena suara emas yang khas yang dimilikinya tersebut, dalam sekejap Susan Boyle menjadadak menjadi celebrity dunia. Puluhan juta orang di seluruh belahan dunia dibuat penasaran mereka ramai-ramai menyaksikan penampilannya pada situs You Tube.
Tidak tanggung-tanggung ABC News, CBS, CNN, station televisi ternama ini sampai berebut ingin mewawancarai Susan Boyle. Dari penelusuran mereka, termasuk laporan CBS ketika meliput langsung ke kediaman Susan Boyle di Blacburn Skotlandia, Susan Boyle merupakan sosok wanita sederhana yang aktif dalam kegiatan Gereja. Tidak ketinggalan Oprah Winfrey sudah mengundangnya datang untuk duduk di sofanya dalam acara yang ditonton di seluruh dunia. Ia memang memiliki cerita hidup yang layak diceritakan di Oprah Winfrey Show. Bukan hanya penampilan yang tidak “ngartis” tapi juga kehidupan sendiri yang cukup dramatis.
Pada awal kelahirannya Susan sempat kehabisan oksigen dan membuat perkembangan otak sedikit abnormal. Begitu pula saat disekolah dia menjadi murid yang terbelakang dan menjadi bahan ejekan teman-temannya. Pernah suatu ketika sekitar 14 tahun silam Susan juga ikut audisi acara televisi My Kind of People, namun ia begitu grogi sehingga gagal. Karena cintanya pada dunia tarik suara Susan Boyle rela untuk belajar dari seorang guru vokal, Fred O’Neil. Dari hasil belajarnya tersebut satu dekade silam, Susan pernah melakukan rekaman lagu dengan judul “Cry Me a River”. Album tersebut ditujukan sebagai peringatan pergantian milenium di kampung asalnya. Satu hal yang menjadi motivasi terbesar Susan pada dunia tark suara adalah kerena almarhum Ibunya tercinta. Pentas pertama setelah ibunya meninggal adalah di depan Simon Cowell yang mengguncangkan dunia itu. Sesaat sebelum tampil, Cowell sempat bertanya tentang umur dan hal-hal kecil lain. Boyle mengaku belum pernah pacaran. Ciuman juga belum pernah. Sekarang juga tinggal hanya dengan seekor kucing di rumahnya.
Ternyata kehebatan sebuah mimpi bisa menwujudkan hal-hal diluar dari daya imaginasi kita, karena mampu mengubah impian menjadi sebuah kenyatan, kita tentunya takkan sedikitpun melewatkan waktu untuk mengejar impian tersebut, tanpa pernah mengenal rasa lelah dan kalah untuk mendapatkan semuanya.
Ditulis oleh : ASHAR HAFIDAH <ashar_arc@yahoo.com>
Popularity: 38% [?]
August 20th, 2009
admin
Saya pernah melakukan proyek renovasi rumah milik kawan saya, untuk keperluan ini, pada elemen fasadnya akan ditambahkan pemasangan batu alam, untuk memesan batu alam ini saya ingat lokasi yang sering saya lewati sewaktu kuliah, setibanya di sana untuk membeli batu alam ini, ternyata yang pemilik toko masih sangat muda, usianya masih 20 tahunan. Pada saat mau beli batu alam ini pun saya mendapat penjelasan tentang tipe batu yang cocok untuk rumah yang sedang saya renovasi. Setelah sekian lama dijelaskan detail batu alam yang diinginkan pertanyaan terakhir yang saya ajukan adalah berapa modal untuk membangun usaha ini sambil tersenyum kawan saya ini pun berkata modalnya hanyalah nekad. Dia bercerita bagaimana dia nekad merantau dari jawa ke makassar tanpa modal apa-apa namun dengan keberanian dan kepercayaan akan sebuah arti kesuksesan maka usahanya pun maju sampai seperti sekarang ini.
Saya kemudian teringat kisah sewaktu masih berada di Banjar masin ada seorang pengusaha sukses di daerah Batu Licin yang memiliki berbagai macam jenis usaha mulai dari travel, toko kelontong sampai usaha pengangkutan dia kelola. Ternyata awal kisah sukses hidupnya di Batu Licin ini, hanya bermodalkan pakaian yang menempel di badannya. Bapak ini hanya seorang perantauan dari negeri Cina dan samapi ke Batu Licin dengan perahu. Namun karena kegigihan tekad dan semangat dia telah menjadi pengusaha yang di segani di daerah Batu Licin.
Pernah juga sewaktu kuliah saya juga bekerja partime di sebuah event organizer untuk menambah penghasilan saya sebagai mahasiswa, ditempat tersebut saya bekerjasama dengan kontraktor eksebition dari PT.Creator kebetulan dengan pimpinan Creator ini akrab dengan saya, gayanya santai dan penuh semangat jika dia bercerita, saya sempat bertanya kepadanya bagaimana awal kariernya sehingga perusahaannya bisa menjadi perusahaan kontraktor eksbesi yang cukup di segani di kota Makassar, dengan tersenyum dia berkata bahwa dia hanya bermodalkan nekad, dia jebolan Jurusan Arsitektur Universitas Hasanuddin yang memutuskan berhenti kuliah pada semester 4.
Sepertinya sudah menjadi rumus wajib bahwa untuk menjadi orang-orang luar biasa, nekad itu menjadi jimat yang paling ampuh untuk meraih kesuksesan. Sama halnya dengan Tony Chistiansen dia adalah seseorang yang sejak kecilnya kehilangan kedua kakinya akibat tergilas kereta api, namun keinginannya untuk tidak distimewakan dan diperlakukan seperti orang pada umumnya telah membuatnya menjadi orang yang luar biasa. Sebagai latihan terapi untuk memulihkan kondisinya ayahnya memutusakan untuk mengajarkan renang kepadanya, walaupun sebenarnya Tony Chistiansen tidak tahu berenang dan membenci air.
Namun sewaktu sesi latihan renang dimulai oleh pelatihnya ia langsung didorong ke dalam kolam renang dan akibatnya Tony tenggelam dan diangkat menggunakan dengan jala. itulah sesi latihan pertama yang tidak mungkin terlupakan baginya , hari-hari selanjutnya dia mulai belajar mengapung dan berenang sejauh satu mil, 52 kali panjang kolam renang tanpa henti.
Saat SMA pelatihnya menyarankan Tony Chistiansen untuk ikut surf life guard (penyelamat berselancar) dia bergabung dengan Omanu Pasific Surf Club dan telah menyelamatkan 33 nyawa dan mendapatkan penghargaan sertifikat dari World Lifesaving Federation. Tony Chistiansen telah mewakili selandia baru lima kali keikut sertaan pertandingan yang berbeda :World,Paralympic,dan FESPIC dan memenangkan 35 medali selama karir atletiknya. Prestasi itu semua diraih sewaktu usianya masih di bawah 20 tahun.
Tony Chistiansen juga seorang yang aktif dalam olahraga taekwondo dan meraih Dan 2 selain itu dia juga adalah seorang pilot bersertifikasi, juara speedway dan balap motor. Tony Chistiansen bahkan telah mendaki gunung Klimanjaro yang terkenal sebagai atap afrika, dia juga telah berkeliling keberbagai negara Asia dan Eropa, berbicara di depan forum international yang tampil sebagai motivator yang dihadiri peserta pulah rbu orang dan semua prestasi yang diperoleh oleh Tony Chistiansen saat dia tidak mempunyai kedua kakinya.
Ditulis oleh : ASHAR HAFIDAH <ashar_arc@yahoo.com>
Popularity: 37% [?]
August 20th, 2009
admin Saya pernah bertemu seorang ibu yang bercerita bahwa dia mempunyai 3 orang anak yang semuanya kuliah di UNPAD di jatinangor, sementara dia sendiri hanyalah seorang pegawai negeri dengan gaji pas-pasan setiap bulannya, jika di kalkulasikan total pendapatan dengan jumlah pengeluaran yang harus dikeluarkan setiap bulannya sangat jauh dari mencukupi. Salah satu dari ketika anaknya ini juga menderita bronchitis dan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit untuk berobat.
Setiap hari untuk biaya transportasi anak-anaknya ke kampus sebesar 20.000/orang memang jarak dari kampus dengan tempat tinggalnya sangat jauh. Namun ibu ini tetap yakin bahwa semua perjalan ini akan bisa terlewati, sampai saat ini anak-anaknya pun telah ada yang hampir menyelesaikan kulihanya, satu kunci mengapa dia bisa melewati ini semua, adalah karena setiap malamnya dia melaporkan keaadaan anak-anaknya kepada tuhan untuk diberi jalan keluar atas segala persoalan dan kebutuhan hidupnya yang harus terpenuhi.
Sama halnya pengalaman hidup seorang bapak yang hidup dilampung tentang bagaimana keajaiban hidup yang dilaluinya. Bapak tersebut hanya berprofesinya sebagai seorang supir truk dengan upah UMR hanya 600.000,-/bulan, namun ia juga mempunyai tanggungan 1 orang istri dan 4 orang anak-anaknya yang semuanya bersekolah, namun bapak itu yakin dan penuh optimisme mampu dan bisa menghidupi anak-anaknya sampai dengan semuanya bisa sekolah tinggi-tinggi, bapak itu bercerita bahwa saat ini anak sulungnya mengambil kuliah S-3 di Taiwan mulai dari masuk kuliah S-1 di UI sampai dengan S-2 di UI dan melanjutkan kuliahnya di Taiwan S-3 semuanya dengan beasiswa dan umur anak sulungnya sakarang ini baru 23 tahun.
Sedangkan anaknya yang ke 2 telah hampir merampungkan skripsinya pada jurusan teknik informatika di universitas lampung. Untuk anak ke-3 sendiri baru masuk di UI jurusan administrai Negara, anak ke-4 yang bungsu bercita-cita kuliah di luar negeri dan saat ini dia dalam proses seleksi oleh Petronas untuk mendapatkan beasiswa kuliah di Malaysia, dengan penuh haru bapak tersebut menceritakan pengalamannya yang luar biasa, dan berkat keyakinannya untuk menwujudkan cita-cita anak-anaknya hal itu bisa terlaksana. Memang kadang terasa jika kita melihat kenyataan hidup ini sangat berat untuk dilewati apalagi dengan keterbatasan yang begitu banyak kita miliki. Tapi karena hidup bukan metematika, yang hanya bisa kita tambah dan kurangi, tetapi begitu banyak keajaiban yang bisa kita temukan ketika kita ingin berbuat sesuatu yang lebih walaupun dengan segala keterbatasan yang kita miliki.
Ditulis oleh : ASHAR HAFIDAH <ashar_arc@yahoo.com>
Popularity: 28% [?]
August 20th, 2009
admin
Ada seorang bapak yang melamar di proyek yang sedang kami kerjakan untuk posisi office boy, kebetulan saat itu memang kami sedang membutuhkan office boy untuk di tempatkan diproyek yang sedang kami kerjakan. Setelah diterima bekerja di tempat kami, setiap hari bapak itu terlihat penuh semangat dan keceriaan tak pernah sehari pun dai nampak kelihatan lelah ataupun kusut dengan pekerjaannya sebagai office boy. Karena semangat dan kinerja yang baik yang tunjukkan bapak itu, banyak pengawai proyek yang sangat senang dengan bapak ini, Namun jauh diatas itu semua ternyata bapak ini juga selalu melihat peluang untuk bisa mendapatkan penghasilan tambahan. Setelah cukup informasi yang dia kumpulkan, dengan berbekal modal yang dikumpulkannya hari-demi hari, akhirnya dia bisa membeli mobil kecil dan memodifikasinya menjadi warung sederhana. Warung tersebut diparkie tepat di depan lokasi proyek. Segala macam kebutuhan kami disediakan dimobil kecilnya ini. Mulai dari makanan kecil,minuman sampai dengan makanan berat, bahkan jual pulsa pun dia melayani.
Karena pelayanan yang diberikan sangat baik, kami menjadi langganan tetap untuk belanja di warung bapak ini. Uniknya kami jadikan warung tersebut sebagai tempat melepas lelah dan bercanda dengan yang lain. Hari-demi hari warungnya terus menjadi ramai. Tak terasa jumlah penghasilan yang didapatakan setiap bulannya bisa melebihi gajinya beberapa kali lipat sebagai office boy. Itulah bentuk reward yang didapatkan ketika kita mampu dan jeli untuk melihat potensi di depan kita. Sebab yang namanya potensi dengan sendirinya mengandung arti bahwa sesuatu itu telah ada, dan tidak perlu diciptakan. Cuma, sesuatu itu masih dibiarkan “merana” dan belum digali apalagi dipoles.
Sama halnya dengan pengalaman Nasi Uduk Gondangdia bisa dijadikan contoh. Halaman ruko wartel dan money changer-nya dibiarkan “merana” bertahun-tahun dan hanya dimanfaatkan sebagai lahan parkir. Itu pun yang memanfaatkan orang lain. Untunglah Jasmine, Jusriel Kamil, Wita dan Lisa, cepat menyadari nilai potensi lahan kosong strategis yang terletak di pinggir jalan raya ini. Setelah disulap menjadi gerai outdoor nasi uduk, lahan yang tadinya merana ini bisa menjadi pundi-pundi uang keempat keluarga tersebut. Betapa tidak, dalam sebulannya Nasi Uduk Gondangdia membukukan omset Rp 270 juta. Dalam perkembangannya, bisnis nasi uduk justru jauh lebih prospektif sehingga bisnis wartel harus mengalah.
Ditulis oleh : ASHAR HAFIDAH <ashar_arc@yahoo.com>
Popularity: 29% [?]