Posts Tagged ‘Loyalitas’

ESDM MINTA KELONGGARAN CABOTAGE KAPAL OFF SHORE

JAKARTA: Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral meminta Kementerian Perhubungan membebaskan sejumlah kapal off shore (lepas pantai) dari ketentuan berbendera Indonesia seiring dengan penerapan asas cabotage secara penuh pada 1 Januari 2011.

Sekretaris Direktorat Jenderal Perhubungan Laut Kemenhub Bobby R. Mahamit mengakui Kementerian ESDM telah meminta dispensasi sejumlah kapal lepas pantai terkait dengan asas cabotage (komoditas domestik wajib diangkut oleh kapal berbendera Indonesia).

“Permintaan itu disampaikan melalui surat kepada kami [Kemenhub] pada Desember lalu,” katanya ketika dikonfirmasi Bisnis pekan lalu.

Bobby menjelaskan Kementerian ESDM meminta sedikitnya tiga jenis kapal lepas pantai diberi kelonggaran dari ketentuan asas cabotage di antaranya jenis floating production storage offloading (FPSO) dan drill ship (kapal pengeboran di laut dalam).

Namun, dia menuturkan pihaknya belum mengetahui alasan Kementerian ESDM meminta ketiga jenis kapal itu dikecualikan dari asas cabotage. “Saya belum tahu apa alasan pastinya, tetapi sedikitnya ada tiga jenis kapal yang diminta diberi dispensasi dari ketentuan asas cabotage itu,” ujarnya.

Kebijakan asas cabotage diberlakukan secara bertahap sejak keluarnya Instruksi Presiden No.5/ 2005 tentang Pemberdayaan Sektor Maritim Nasional. Inpres itu diperkuat dengan UU No. 17/ 2008 tentang Pelayaran.

Pasal 8 UU itu menyebutkan kegiatan angkutan laut dalam negeri dilakukan oleh perusahaan angkutan laut nasional dengan menggunakan kapal berbendera Indonesia serta diawaki oleh awak kapal berkewarganegaraan Indonesia.

Hingga akhir tahun lalu, 13 komoditas sudah wajib diangkut dengan menggunakan kapal berbendera Merah Putih untuk kegiatan distribusi antarpelabuhan dan antarpulau di dalam negeri sehingga menyisakan satu komoditas, yakni kegiatan lepas pantai.

Berdasarkan Keputusan Menteri Perhubungan KM No.71 tahun 2005 tentang Kegiatan Pengangkutan Barang di dalam negeri, kegiatan lepas pantai domestik wajib menggunakan kapal berbendera Merah Putih paling lambat 1 Januari 2011.

Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Indonesian National Shipowners’ Association (INSA) Johnson W. Sutjipto mengakui telah menerima informasi soal keinginan Kementerian ESDM agar sejumlah kapal off shore diberi dispensasi dari ketentuan berbendera Merah Putih mulai 1 Januari 2011.

“Padahal, pelayaran nasional sudah berkomitmen untuk menggantikan armada berbendera asing, termasuk kapal off shore jenis FPSO. Ditender saja belum, kok sudah minta dikecualikan,” tegasnya.

Johnson mengungkapkan sejumlah perusahaan pelayaran sudah siap masuk ke sektor penyediaan armada yang memerlukan investasi besar, seperti jenis FPSO, tetapi masih tertahan karena tender belum dibuka.

Oleh Tularji

Bisnis Indonesia

Popularity: 18% [?]

Incoming search terms for the article:

CHANGE OUR MIND SET (11)

BORN AS A FIGHTER

“Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah” – Thomas Alva Edison

Sejak diri kita masih berupa sperma, sebenarnya kita telah belajar bertarung untuk menjadi yang terbaik, pertarungan ini berlangsung dengan berjuta-juta sel sperma, sampai akhirnya hanya satu yang berhasil menembus indung telur yaitu diri kita. Perjuangan belum berakhir sampai disini, di dalam indung telur ini kita terus berkembang sampai dengan saat usia kita telah mencapai 4 bulan. Kita belajar untuk mampu bertahan dengan di dalam perut ibu, itulah perjuangan pertama kita untuk bisa lolos dan berhasil dalam kualifikasi kehidupan.

Selanjutnya kita mulai tumbuh besar dalam dunia persekolahan, kita juga sudah mulai berkompetisi dengan anak-anak lain untuk menjadi juara dalam kelas yang biasa kita sebut bintang kelas. Dalam kawan-kawan sepermainan pun kita juga telah mulai berkompetisi siapa yang paling unggul dalam permainan tersebut. Dunia anak-anak ini ternyata kita sudah mulai berkompetisi.

Bagaimana selanjutnya setelah kita menjadi besar dan dewasa, ternyata justru kompetisi semakin sengit, berbagai macam ide, bentuk formasi dan unjuk kreatifitas terus kita lakukan untuk bisa menjadi bintang. Nilai-nilai kompetisi kita sudah banyak perubahan, kita pun juga sudah belajar untuk memiliki format stategi dan serangan andalan. Bekal-bekal yang kita miliki untuk berkompetisi justru semakin kaya.

Namun anehnya jika kita melihat angka statistik tentang jumlah penganguran yang ada ternyata begitu tinggi. Pengangguran ini bukan hanya terjadi dengan orang-orang yang punya pendidikan rendah namun juga yang punya gelar sarjana juga banyak yang nongkrong di rumah tanpa mampu untuk berbuat sesuatu. Alasannya klasik mereka berkilah bahwa lapangan pekerjaan semakin sempit, tidak ada peluang, kita dari orang daerah jadi tidak bisa bersaing dan masih banyak lagi alasan yang dicari untuk mencari-cari pembenaran lainnya. Sungguh aneh semua karena nilai-nilai kompetisi street fighter yang kita miliki sejak kita masih berupa sperma sampai kita besar dan dewasa saat ini, semua menjadi runtuh dan tidak berarti apa-apa. Padahal kita memiliki kemampuan yang sungguh sangat luar biasa. Kita sudah dibekali oleh sang pencipta memiliki tools kehidupan yang mampu mendorong dan menciptakan kita sebagai sosok yang luar biasa.

Sosok Zuckerberg kreator Face Book mungkin bisa kita jadkan contoh bagaimana pendidikan bukanlah hal yang utama untuk menjadi seorang menjadi sukses. Umurnya masih 20 tahunan tapi sudah mampu menjadi sosok yang fenomenal saat ini, bahkan majalah Times memasukkan namanya sebagai salah satu orang yang paling berpengaruh di dunia tahun 2008. Zuckerberg pernah kuliah di Harvard University namun drop out karena sangat tertarik untuk menjadi pengusaha. Untuk membuat Face Book ini, dia tidak perlu mengeluarkan uang yang begitu banyak namun dengan hobinya mengutak-atik program komputer akhirnya dia mampu menjadi milyader di usia yang sangat muda. Kita harusnya bisa belajar dengan Zuckerberg bagaimana dia mampu bersaing dan bertarung untuk bisa menjadi seperti saat ini. Pilihan yang dia putuskan pun tidak tanggung-tanggung, dia rela untuk drop out di Harvard University salah satu universitas terbaik di bumi ini.

Untuk menjadi hebat dan luar biasa pun kita tidak perlu menjadi orang kaya dulu, dengan sikap kompetensi yang tinggi dengan semangat membara dan pantang menyerah kita pun bisa menjadi sosok seperti ini. Sama juga dengan sang pendiri perusaahan Apple Corp. Steve Jobs.

Sewaktu muda dia mulai membuka usahanya hanya berawal dari garasi rumahnya. Walaupun pada masa awal produksi hanya bisa menghasilkan 50 buah PC, namun seiring dengan waktu Apple Corp. menjadi salah satu perusahaan yang menjadi pionir dalam revolusi teknologi computer. Salah satu produknya yang fenomenal adalah Ipod. Pastinya anda mengenal Ipod bukan, karena hampir sebagian besar penduduk di bumi ini sangat senang menggukan Ipod. Sensasinya akan terasa jika kita sedang berjalan-jalan, dengan Ipod dalam genggaman di tangan.

Pada umur 21 tahun Steve Jobs bersama rekannya Steve Wozniak, mendirikan Apple Computer. Walaupun harus bersusah payah untuk mengumpulkan modal yang diperoleh dengan menjual barang-barang mereka yang paling berharga, namun mereka berhasil mengibarkan dan mengenalkan produk Apple Corp. ke berbagai belahan dunia. Kesuksesan Apple Corp. juga tidak berlangsung sepanjang masa, karena pada tahun 1997 Apple pernah ditempa krisis dan hampir collaps, sementara Steve Jobs sempat diberhentikan dari Apple.

Pada saat di berhentikan tersebut, Steve Jobs tidak serta merta menjadi tenggelam, karena memang pada dasarnya Steve Jobs “bertangan dingin”. Steve Jobs kembali mendirikan perusahaan baru, dan perusahannya tersebut juga langsung mendapat tempat yang tinggi di jajaran perusahaan terkenal di Amerika Serikat. Steve Jobs mendirikan perusahaan piranti keras khusus animasi dengan nama Pixar. Film pertama hasil dari perusahaan milk Jobs adalah Toy Story yang terjual lebih 150 juta keeping dan mencetak pendapatan lebih dari US$ 2.5 Milyarad. Sementara kollaps yang hampir diderita oleh Apple Corp. berbalik menjadi perusahaan yang kembali disegani setelah Steve Jobs menjadi CEO di perusahaan tersebut.

Change our mind set, itulah kata-kata yang paling tepat untuk kita terapkan untuk bisa menjadi orang-orang yang bertangan dingin. Karena begitu banyak orang yang telah berhasil untuk menjadi enterprenur unggul dan berjaya di masa mudanya. Walaupun mereka juga menyadari keterbatasannya, namun itu semua bukan menjadi alasan untuk menjadi mundur dari pertarungan hidup.

Ditulis oleh : ASHAR HAFIDAH <ashar_arc@yahoo.com>

Popularity: 7% [?]

Incoming search terms for the article:

CHANGE OUR MIND SET (10)

WINNING THE HEART

“Apa yang saya saksikan di Alam adalah sebuah tatanan agung yang tidak dapat kita pahami dengan sangat tidak menyeluruh, dan hal itu sudah semestinya menjadikan seseorang yang senantiasa berpikir dilingkupi perasaan “rendah hati.” –Einstein

Saat ini kita banyak mendengar tentang bagaimana melayani bahwa Pembeli adalah Raja ataupun pelanggan adalah segalanya. Namun kita sendiri kadang kurang menyadari bahwa itu semua terkait dengan eksekusi yang dilakukan oleh bawahan itu sendiri. Kita bisa saja mengklaim bahwa we serve better than other namun pada implementasi di lapangan ternyata konsumen tersebut tidak merasa terpuaskan dengan pelayanan yang diberikan. Masih segar mungkin dalam ingatan kita prinsip kuno dari ekonomi yaitu “pengeluaran sekecil-kecilnya dan pendapatan sebesar-besarnya”. Pendapat ini mungkin ada benarnya tetapi hanya berlaku pada zaman dahulu kala alias jadul. Seorang pimpinan yang tidak membekali timnya di lapangan akan banyak mendapatkan kesulitan dengan treatment yang akan diberikan sang karyawar tersebut. Bisa saja karyawan menganggap pekerjaan ini dilakukan hanya berdasarkan job description dalam pekerjaannya, namun dalam urusan treatment konsumen bukan urusannya bahkan malah mungkin dihadapi dengan masa bodoh. Bayangkan bahaya yang akan kita dapatkan jika anak buah kita hampir sebagian besar berfikiran seperti itu, akankah perusahaan kita terus melaju dengan kencangnya atau akan habis seiring dengan waktu itu sendiri.

Saat ini kita berada pada masa krisis global yang dimulai dari Amerika Serikat, saat kredit perumahan menjadi macet. Kita juga melihat berita tentang permintaan dana talangan untuk menyelamatkan dunia industri di Amerika Serikat. Di mana-mana headline media menceritakan bagaimana eksekutif AIG Amerika, telah mendapatkan suntikan dana stimulus dari pemerintahan Obama yang jumlahnya tidak tanggung-tanggung sebesar 75 juta dollar AS, namun apa yang diperbuat oleh CEO AIG setelah mendapat talangan dana dari pemerintah?, mereka justru memberikan bonus sebesar 165 juta dollar AS atau setara dengan Rp. 2 trilliun kepada para karyawannya. Yang menarik disini adalah bukan besar uang yang diberikannya tetapi adalah bagaimana CEO AIG ini sangat cemas jika tidak memberikan bonus kepada para eksekutifnya mereka akan hengkang ke perusahaan lainnya.

Mungkin hal ini bisa menjadi gambaran bagi kita bagaimana system treatment karyawan telah mengalami revolusi yang sangat besar. Namun contoh perusahaan AIG di atas tidak berlaku untuk perusahaan Google. Google mampu memberi daya tarik yang besar untuk bergabung dengan perusahaan mereka. Untuk masuk di Google kita mendapatkan penghargaan yang tinggi karena langsung di interview oleh sang taipan Google sendiri yaitu Brin dan Page, mereka rela menjadi bemper awal, untuk lebih mengetahui secara detail karyawan yang akan menjadi bagian dari keluarga besar Google. Para calon pelamar pun tidak kalah serunya, mereka rela antri untuk bergabung di Google. Ternyata semua hal yang dilakukan tersebut bukan hanya karena gaji besar yang mereka incar, namun karena ketika menjadi karyawan google mereka merasa menjadi bagian dari pemilik perusahaan google.

Walaupun para karyawan Google bekerja keras sepanjang waktu, namun mereka diperlakukan seperti keluarga. Diberi makan gratis, minuman kesehatan cuma-cuma, dan cemilan yang berlimpah. Para Googler juga menikmati sejumlah kemudahan seperti layanan binatu, penata rambut, dokter umum dan dokter gigi, pencucian mobil dan, belakangan tempat penitipan anak, fasilitas kebugaran lengkap dengan pelatih pribadi, tukang pijat professional yang praktis membuat orang tidak perlu meninggalkan kantor. Tak ketinggalan Voli pantai, fusbal, hoki sepatu roda, lomba skuter, pohon palma, kursi bean bag, bahkan anjing. Semua fasilitas yang di sediakan tersebut hanya karena Google ingin menghadirkan suasana kerja yang menyenangkan dan mampu mendorong kreativitas. Sehingga kayawan Google merasa betah dan kerasan untuk berkarya ditempat kerjanya. Yang tidak kalah serunya karena Google bahkan mencarter beberapa bus dengan akses internet nirkabel, sehingga para Googler yang tinggal di San Francisco bisa tetap produktif, bisa langsung bekerja menggunakan laptop daripada kesal atau melamun karena macet sewaktu berangkat bekerja.

Namun dari semua fasilitas yang menyenangkan tersebut hal yang paling menarik adalah aturan bahwa semua software engineer harus menggunakan setidaknya 20% waktu mereka. Kira-kira sama dengan sehari dalam seminggu, untuk mengerjakan proyek apa pun yang mereka minati. Ternyata pemberlakuan aturan untuk memanfaatkan waktu 20% ini merupakan cara untuk mendorong inovasi dan kreativitas karyawan utuk senantiasa senang dalam melakukan inovasi.

Ternyata buah system manajemen perusahaan yang unik, mampu menarik banyak orang untuk bergabung dengan Google bahkan karyawan Microsoft setiap tahunnya pasti ada yang pindah ke Google. Sementara Google sendiri sangat jarang karyawannya yang keluar dari perusahaan tersebut, mereka kerasan bekerja di Google, Karena mereka merasa bagian dari Google.

Pasti rasannya sangat menyenangkan jika kita memiliki tipe karyawan seperti karyawan Google. Mereka cerdas, cekatan, handal, dan kreatif serta memiliki loyalitas yang tinggi. Hal lumrah jika hal itu menjadi impial setiap CEO. Jawabannya ternyata sederhana untuk mendapatkan tipe karyawan seperti mereka, karena untuk meraih itu semua, kita harus mampu menaklukkan dan memenangkan hati bawahan kita Winning The Heart.

Pernah ada seorang manager sebuah mini market bercerita bagaimana dia bisa mengapai posisi Manager sekarang ini dan bisa bertahan di perusahaan tersebut. Karirnya dimulai dari posisi staf biasa hingga akhirnya bisa menjadi manager. Di ceritakan bahwa pada saat itu sewaktu dia masih menjadi staf biasa, anaknya menelpon ke kantor minta kepada sang ayah untuk dibelikan sarung tangan bisbol sebagai hadiah ulang tahunnya nanti. Sebagai ayah yang baik tentunya dia pasti mengiayakan permintaan anaknya tersebut, walau setelah telepon ditutup, dia sudah kebingungan bagaimana dia bisa membeli sarung tangan bisbol tersebut padahal gajinya tidak bisa mencukupi untuk membeli sarung bisbol tersebut.

Sampai tiba pada waktunya hari ulang tahun sang anak, tiba-tiba sang atasan datang menghampirinya dan memberikan hadiah berupa sarung tangan bisbol. Si ayah terkejut ko Bapak tau bahwa hari ini ulang tahun anaknya dan dia minta hadiah dibelikan sarung tangan bisbol, Dengan tersenyum atasan tersebut berkata bahwa sewaktu dia melakukan kontak telepon dengan anaknya tersebut, secara tidak sengaja atasannya ini mendengar percakapan tersebut dan menunggu waktu yang tepat untuk diberikannya hadiah tersebut.

Reaksi sang karyawan tentu sangat bahagia karena selama ini dia bekerja hanya untuk sang buah hati agar bisa terus tersenyum, dan pada saat ulang tahun anaknya impian tersebut bisa terwujud. Padahal sebelumnya di ceritakan bahwa sang karyawan ini telah berniat untuk berpindah ke tempat lain yang bisa memberikan gaji yang lebih baik. Namun karena sentuhan atasannya ini, semua keinginannya itu bisa terpenuhi hanya karena hadiah “sarung tangan bisbol”.

Hal ini bisa menjadi pelajaran bahwa ternyata ketika kita bisa memberikan sentuhan yang memberikan nilai lebih manusiawi kepada karyawan maka mereka akan memberikan yang terbaik yang mereka miliki. Percuma kita memiliki slogan untuk “kita harus memiliki rasa kepemilikan terhadap perusahaan” namun dalam implementasinya karyawan tidak dianggap sebagai satu kesatuan keluarga. Menangkanlah hati karyawan maka mereka akan memenangkan hati konsumen. Dengan rasa memiliki yang tinggi, karyawan akan merasa menjadi pemilik yang sebenarnya, yang berharap untuk menjadikan perusahaan ini menjadi perusahaan no.1. Winning the heart not only winning the skill. Jika kita hanya berorientasi dalam memenangkan perusahaan dengan merekrut individu-individu melalui skill yang baik saja, maka percayalah bahwa energi yang akan dikeluarkan justru jauh lebih besar dari yang diperkirakan, karena karyawan tersebut akan berfikir bisa berpindah ke tempat lain untuk mendapatkan pendapatan dan fasilitas yang lebih baik.

Ditulis oleh : ASHAR HAFIDAH <ashar_arc@yahoo.com>

Popularity: 4% [?]

Incoming search terms for the article: