Posts Tagged ‘Jalan Suatu Persoalan’

ORANG YANG MENGHALANGI ANDA

Bagaimana bila ada orang sedemikian ngotot menghalangi anda mencapai sukses ?
Bagaimana bila orang itu yang selalu merintangi anda di setiap usaha ?
Bagaimana perasaan anda terhadap orang itu ?
Bagaimana kalau orang itu selalu muncul sambil membawa segudang alasan untuk menghalangi anda bertindak ?

Bagaimana kalau orang itu adalah anda sendiri ?
boleh jadi ada kemungkinan, diri sendiri adalah musuh terbesar anda dalam menghalangi sukses.

Pernahkah anda memergoki diri anda sendiri berkata ” Aku tidak mungkin melakukan itu”
Bukankah suara kecil itu juga yang selalu merintangi tujuan anda, dan membawa beribu-ribu alasan bahwa ini dan itu adalah MUSTAHIL.

Keterbatasan yang anda miliki memang meminta anda untuk membatasi diri, tetapi keputusan tetap di tangan anda. suara kecil itu silahkan bicara apa saja.

Relakah anda dipenjara oleh keterbatasan ? tentu TIDAK.
Bayangkan apa yang dapat anda capai bila anda 100 % mendukung diri anda sendiri.

Nah Silahkan BERHENTI menghayal dan mulailah kehidupan.

Popularity: 8% [?]

Incoming search terms for the article:

PRASANGKA

Ketika anda memandang sesuatu persoalan, tanggalkan prasanka-prasangka.
Prasangka itu bagaikan sepatu yang nyaman dipakai namun tak dapat digunakan
untuk berjalan. Ia memberikan jawaban sebelum anda mengetahui pertanyaannya.
Dan, seburuk-buruknya jawaban adalah bila anda tak paham akan masalahnya.
Biarkan fakta yang tampak di hadapan, anda terima apa adanya. Jangan biarkan
prasangka menyeret anda ke ujung jalan yang lain. Munkin anda merasa aman
dengan prasangka anda. Namun sebenarnya ia berbahaya di waktu yang panjang.
Bila anda telah mampu melepaskan prasangka, anda akan menemukan pandangan
yuang lebih jernih, keberanian untuk mengatasi masalah dan jalan yang lebih
lebar. Bila anda mengenakan kacamata, maka yang melihat tetaplah mata anda,
bukan kacamata anda. Dan keadaan yang sebenarnya terjadi adalah apa yang
berada di balik kacamata. Bukan yang terpantul pada cermin kacamata anda.
Demikian pula halnya dengan diri anda, yang sesungguhnya melihat adalah hati
melalui mata anda. Prasangka itu adalah debu-debu pikiran yang mengaburkan
pandangan hati sehingga anda tak mapu melihat dengan baik. Usaplah prasangka
sebagaimana anda menyingkirkan debu dari kacamata karena keinginan anda
untuk melihat lebih jelas dan jernih lagi.

Popularity: 10% [?]

Incoming search terms for the article:

SANG JUARA

 

Suatu ketika, ada seorang anak yang sedang mengikuti sebuah lomba mobil balap mainan. Suasana sungguh meriah siang itu, sebab, ini adalah babak final. Hanya tersisa 4 orang sekarang dan mereka memamerkan setiap mobil mainan yang dimiliki. Semuanya buatan sendiri, sebab, memang begitulah peraturannya.
Ada seorang anak bernama Mark. Mobilnya tak istimewa, namun ia termasuk dalam 4 anak yang masuk final. Dibanding semua lawannya, mobil Mark lah yang paling tak sempurna. Beberapa anak menyangsikan kekuatan mobil itu untuk berpacu melawan mobil lainnya. Yah, memang, mobil itu tak begitu menarik. Dengan kayu yang sederhana dan sedikit lampu kedip diatasnya, tentu tak sebanding dengan hiasan mewah yang dimiliki mobil mainan lainnya. Namun, Mark bangga dengan itu semua, sebab, mobil itu buatan tangannya sendiri.
Tibalah saat yang dinantikan. Final kejuaraan mobil balap mainan. Setiap anak mulai bersiap di garis start, untuk mendorong mobil mereka kencang-kencang. Di setiap jalur lintasan, telah siap 4 mobil, dengan 4 “pembalap” kecilnya. Lintasan itu berbentuk lingkaran dengan 4 jalur terpisah diantaranya. Namun, sesaat kemudian, Mark meminta waktu sebentar sebelum lomba dimulai. Ia tampak berkomat-kamit seperti sedang berdoa. Matanya terpejam, dengan tangan bertangkup memanjatkan doa. Lalu, semenit kemudian, ia berkata,”Ya, aku siap!”.
Dor. Tanda telah dimulai. Dengan satu hentakan kuat, mereka mulai mendorong mobilnya kuat-kuat. Semua mobil itu pun meluncur dengan cepat. Setiap orang bersorak-sorai, bersemangat menjagokan mobilnya masing-masing. “Ayo..ayo… cepat..cepat, maju..maju”, begitu teriak mereka. Ahha…sang pemenang harus ditentukan , tali lintasan finish pun telah terlambai. Dan, Mark lah pemenangnya. Ya, semuanya senang, begitu juga Mark. Ia berucap, dan berkomat-kamit lagi dalam hati. “Terima kasih.” Saat pembagian piala tiba, Mark maju ke depan dengan bangga.
Sebelum piala itu diserahkan, ketua panitia bertanya. “Hai jagoan, kamu pasti tadi berdoa kepada Tuhan agar kamu menang, bukan?”. Mark terdiam. “Bukan, Pak, bukan itu yang aku panjatkan” kata Mark. Ia lalu melanjutkan, “Sepertinya, tak adil untuk meminta pada Tuhan untuk menolongmu mengalahkan orang lain. “Aku, hanya bermohon pada Tuhan supaya aku tak menangis, jika aku kalah.” Semua hadirin terdiam mendengar itu. Setelah beberapa saat, terdengarlah gemuruh tepuk-tangan yang memenuhi ruangan.
RENUNGAN
Teman, anak-anak, tampaknya lebih punya kebijaksanaan dibanding kita semua. Mark, tidaklah bermohon pada Tuhan untuk menang dalam setiap ujian. Mark, tak memohon Tuhan untuk meluluskan dan mengatur setiap hasil yang ingin diraihnya. Anak itu juga tak meminta Tuhan mengabulkan semua harapannya. Ia tak berdoa untuk menang, dan menyakiti yang lainnya. Namun, Mark, bermohon pada Tuhan, agar diberikan kekuatan saat menghadapi itu semua. Ia berdoa, agar diberikan kemuliaan, dan mau menyadari kekurangan dengan rasa bangga. Mungkin, telah banyak waktu yang kita lakukan untuk berdoa pada Tuhan untuk mengabulkan setiap permintaan kita. Terlalu sering juga kita meminta Tuhan untuk menjadikan kita nomor satu, menjadi yang terbaik, menjadi pemenang dalam setiap ujian. Terlalu sering kita berdoa pada Tuhan, untuk menghalau setiap halangan dan cobaan yang ada di depan mata
Padahal, bukankah yang kita butuh adalah bimbingan-Nya, tuntunan-Nya, dan panduan-Nya? Kita, sering terlalu lemah untuk percaya bahwa kita kuat. Kita sering lupa, dan kita sering merasa cengeng dengan kehidupan ini. Tak adakah semangat perjuangan yang mau kita lalui? Saya yakin, Tuhan memberikan kita ujian yang berat, bukan untuk membuat kita lemah, cengeng dan mudah menyerah. Sesungguhnya, Tuhan sedang menguji setiap hamba-Nya yang shaleh. Jadi, teman, berdoalah agar kita selalu tegar dalam setiap ujian. Berdoalah agar kita selalu dalam lindungan-Nya saat menghadapi itu semua.

 

 

Popularity: 4% [?]

Incoming search terms for the article:

BAGAIMANA ANDA MAMPU KUAT BEKERJA

 

Bagaimana seorang tahan berjam-jam bekerja seolah tak mengenal lelah? apa pula rahasia pekerja rig (pengeboran) lepas pantai yang meninggalkan anak istri bertarung dengan angin dan badai?,bagaimana juga dengan para petani,nelayan,kuli sopir angkutan,pekerja berat yang tahan membanting tulang di tengah terik panas matahari atau dingin malam?,kekuatan apa yang mendorong mereka begitu kuat secara fisik dan tanguh secara mental?sedangkan di sudut sempit yang lain,banyak orang mengeluh karena persolanyan yang tak lebih besar dari ujung kuku.
Kekuatan itu bernama cinta,cinta yang melahirkan dan pengabdian bagi kepada siapakah mereka mempersembahkan hasil kerja mereka,kepada keluarga nun jauh disanam kepada masyarakat banyak yang membutuhkan karya mereka kepada alam yang mengasuh mereka kepada masa depan kehidupan yang sejahtera,atau kepada hati tempat cinta itu mengalir.
Bila anda berkeluh kesah hanya karena harus memperpanjang waktu kerja anda beberapa jam saja,maka kenanglag punggung bungkuk seorang kakek yang menarik sampah kota ini.Beliamemiliki sesuatu yang ia cintai,yang kepadanya ia ulurkan kerja kepada beliau kita belajar tentang pengabdian atas nama cinta.

 

Popularity: 10% [?]

Incoming search terms for the article:

BATU BESAR

 

SEORANG dosen sedang memberikan kuliah tentang manajemen waktu kepada mahasiswa MBA di suatu hari. Dengan penuh semangat ia berdiri di depan kelas dan berkata,”oke, sekarang waktunya untuk quiz…” Berikut ini kisahnya!!!
Ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakannya di atas meja. Kemudian ia mulai mengisi ember itu dengan batu sebesar kepalan tangan sampai penuh. Dosen itu bertanya,”menurut kalian, apakah sekarang ember ini telah penuh?”
Serentak semua mahasiswa berkata,”Tentu saja, Ya…”
Dosen itu tersenyum dan bertanya,”Yakinkah kalian?” Kemudian ia mengeluarkan kembali sekantung batu kerikil kecil dan perlahan menuangkannya ke dalam ember yang berisi batu tadi. Perlahan tapi pasti kerikil-kerikil tersebut mengisi ruang kosong yang diciptakan oleh batu yang masuk sebelumnya. Setelah mengisi penuh ember tersebut dengan kerikil, dosen itu bertanya kembali,”Nah…sekarang menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?”
Kali ini para mahasiswa terdiam. Beberapa saat beberapa mahasiswa menjawab ragu,”Mungkin tidak…”
“Bagus..”kata dosen itu. Kemudian ia mengeluarkan sekali lagi sekantung pasir dan mulai menuangkan ke dalam ember sambil digoyang-goyangkan sehingga pasirnya masuk mengisi celah antara batu dan kerikil tadi. Setelah penuh dosen itu bertanya kembali,”Baiklah, sekarang apakah menurut kalian ember ini sudah penuh?”
“Beelllummm…” sahut seluruh mahasiswa itu serentak.
“Bagus…bagus…” kata dosen itu sambil tersenyum memandang seluruh mahasiswanya. Kembali dosen itu mengeluarkan segalon air dan mulai mengisi ember itu sampai air memenuhi bibir ember tersebut. Kemudian bertanyalah dosen itu, “Mengertikah kalian arti dari ilustrasi yang baru saja saya sampaikan tadi?”
Seorang mahasiswa sontak mengacungkan tangan,”artinya tak peduli petapa padatnya waktu kita tapi apabila kita mau melakukannya maka semua bisa kita kerjakan.”
“Oh bukan begitu maksudnya. Apa yang ingin saya sampaikan adalah…”kata dosen itu sambil menatap satu per satu mahasiswanya,” kenyataan dari ilustrasi itu yaitu apabila kita tidak pernah memasukkan “batu besar” itu terlebih dahulu maka kita tidak akan bisa memasukkan semuanya….”
Terdapat Renungan di dalamnya:
Apa maksud “batu besar” tersebut dalam hidup Anda? Pekerjaan, keluarga, anak-anak, pasangan hidup, waktu untuk memberi perhatian kepada orang lain, mendengarkan orang lain, peduli terhadap orang lain, melakukan pekerjaan yang dicintai, kesehatan Anda, teman atau semua yang berharga.
Ingatlah untuk selalu memasukkan “batu besar” terlebih dahulu atau Anda akan kehilangan semuanya. Bila Anda mulai mengisinya dengan hal-hal kecil (kerikil, pasir dan air) maka hidup Anda akan dipenuhi dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini sebenarnya tidak perlu terjadi. karena dengan begitu Anda tidak akan pernah memiliki waktu yang besar untuk melakukan hal-hal lain yang lebih besar dan berguna.
Karena itu pikirkanlah dan ingatlah setiap awal hari sebelum Anda akan mulai melakukan sesuatu: Apakah “batu besar” yang hari ini akan saya kerjakan pertama kali?

 

 

Popularity: 16% [?]

Incoming search terms for the article:

MEMBERI TANPA PERTIMBANGAN

Cobalah untuk mengawali suatu hari anda degnan niat untuk memeberi. Mulailah dengan sesuatu yang kecil yang tak terlalu berharga di mata anda. Mulailah dari uang receh. Kumpulkan beberapa recah yang mungkin tercecer di sana-sini, hanya untuk satu tujuan : diberikan. Apakah anda sedang berada di bis kota yang panas, lalu datang pengamen bernyanyi memekakkan telinga atau, anda sedang berada dalam mobil ber-ac yang sejuk, lalu sepasang tangan kecil mengetuk meminta-minta.

Tak peduli bagaimana pendapat anda tentang kemalasan, kemiskinan dan lain sebagainya. Tak perlu banyak pikir, segera berikan satu dua keping pada mereka. Barangkali ada rasa neggan dan kesal. Tekanlah perasaan itu seiring dengan pemberian anda. Bukankah, tak seorang pun ingin memurukkan dirinya menjadi pengemis. Ingat, kali ini anda hanya sedang “berlatih” memberi, mengulurkan tangan dengan jumlah yang tiada berarti?
Rasakan saja, kini sesuatau mengalir dari dalam diri melalui telapak tangan anda. Sesuatu itu bernama kasih sayang.
Memberi tanpa pertimbangan bagai menyingkirkan batu penghambat arus sungai. Arus sungai adalah rasa kasih dari dalam diri. Sedangkan batu adalah kepentingan yang berpusat pada diri sendiri. Sesungguhnya, bukan receh atau berlian yang anda berikan.Kemurahan itu tidak terletak di tangan, melainkan di hati.

Cobalah untuk mengawali suatu hari anda degnan niat untuk memeberi. Mulailah dengan sesuatu yang kecil yang tak terlalu berharga di mata anda. Mulailah dari uang receh. Kumpulkan beberapa recah yang mungkin tercecer di sana-sini, hanya untuk satu tujuan : diberikan. Apakah anda sedang berada di bis kota yang panas, lalu datang pengamen bernyanyi memekakkan telinga atau, anda sedang berada dalam mobil ber-ac yang sejuk, lalu sepasang tangan kecil mengetuk meminta-minta.

 

Tak peduli bagaimana pendapat anda tentang kemalasan, kemiskinan dan lain sebagainya. Tak perlu banyak pikir, segera berikan satu dua keping pada mereka. Barangkali ada rasa neggan dan kesal. Tekanlah perasaan itu seiring dengan pemberian anda. Bukankah, tak seorang pun ingin memurukkan dirinya menjadi pengemis. Ingat, kali ini anda hanya sedang “berlatih” memberi, mengulurkan tangan dengan jumlah yang tiada berarti?

Rasakan saja, kini sesuatau mengalir dari dalam diri melalui telapak tangan anda. Sesuatu itu bernama kasih sayang.

 

Memberi tanpa pertimbangan bagai menyingkirkan batu penghambat arus sungai. Arus sungai adalah rasa kasih dari dalam diri. Sedangkan batu adalah kepentingan yang berpusat pada diri sendiri. Sesungguhnya, bukan receh atau berlian yang anda berikan.Kemurahan itu tidak terletak di tangan, melainkan di hati.

 

 

Popularity: 3% [?]

Incoming search terms for the article:

MAWAR UNTUK IBU

Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, “Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu.”

Pria itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau.” Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, “Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?”

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.

Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

Popularity: 3% [?]

Incoming search terms for the article: