BAGAIMANA ANDA MAMPU KUAT BEKERJA

 

Bagaimana seorang tahan berjam-jam bekerja seolah tak mengenal lelah? apa pula rahasia pekerja rig (pengeboran) lepas pantai yang meninggalkan anak istri bertarung dengan angin dan badai?,bagaimana juga dengan para petani,nelayan,kuli sopir angkutan,pekerja berat yang tahan membanting tulang di tengah terik panas matahari atau dingin malam?,kekuatan apa yang mendorong mereka begitu kuat secara fisik dan tanguh secara mental?sedangkan di sudut sempit yang lain,banyak orang mengeluh karena persolanyan yang tak lebih besar dari ujung kuku.
Kekuatan itu bernama cinta,cinta yang melahirkan dan pengabdian bagi kepada siapakah mereka mempersembahkan hasil kerja mereka,kepada keluarga nun jauh disanam kepada masyarakat banyak yang membutuhkan karya mereka kepada alam yang mengasuh mereka kepada masa depan kehidupan yang sejahtera,atau kepada hati tempat cinta itu mengalir.
Bila anda berkeluh kesah hanya karena harus memperpanjang waktu kerja anda beberapa jam saja,maka kenanglag punggung bungkuk seorang kakek yang menarik sampah kota ini.Beliamemiliki sesuatu yang ia cintai,yang kepadanya ia ulurkan kerja kepada beliau kita belajar tentang pengabdian atas nama cinta.

 

Popularity: 2% [?]

BATU BESAR

 

SEORANG dosen sedang memberikan kuliah tentang manajemen waktu kepada mahasiswa MBA di suatu hari. Dengan penuh semangat ia berdiri di depan kelas dan berkata,”oke, sekarang waktunya untuk quiz…” Berikut ini kisahnya!!!
Ia mengeluarkan sebuah ember kosong dan meletakannya di atas meja. Kemudian ia mulai mengisi ember itu dengan batu sebesar kepalan tangan sampai penuh. Dosen itu bertanya,”menurut kalian, apakah sekarang ember ini telah penuh?”
Serentak semua mahasiswa berkata,”Tentu saja, Ya…”
Dosen itu tersenyum dan bertanya,”Yakinkah kalian?” Kemudian ia mengeluarkan kembali sekantung batu kerikil kecil dan perlahan menuangkannya ke dalam ember yang berisi batu tadi. Perlahan tapi pasti kerikil-kerikil tersebut mengisi ruang kosong yang diciptakan oleh batu yang masuk sebelumnya. Setelah mengisi penuh ember tersebut dengan kerikil, dosen itu bertanya kembali,”Nah…sekarang menurut kalian, apakah ember ini telah penuh?”
Kali ini para mahasiswa terdiam. Beberapa saat beberapa mahasiswa menjawab ragu,”Mungkin tidak…”
“Bagus..”kata dosen itu. Kemudian ia mengeluarkan sekali lagi sekantung pasir dan mulai menuangkan ke dalam ember sambil digoyang-goyangkan sehingga pasirnya masuk mengisi celah antara batu dan kerikil tadi. Setelah penuh dosen itu bertanya kembali,”Baiklah, sekarang apakah menurut kalian ember ini sudah penuh?”
“Beelllummm…” sahut seluruh mahasiswa itu serentak.
“Bagus…bagus…” kata dosen itu sambil tersenyum memandang seluruh mahasiswanya. Kembali dosen itu mengeluarkan segalon air dan mulai mengisi ember itu sampai air memenuhi bibir ember tersebut. Kemudian bertanyalah dosen itu, “Mengertikah kalian arti dari ilustrasi yang baru saja saya sampaikan tadi?”
Seorang mahasiswa sontak mengacungkan tangan,”artinya tak peduli petapa padatnya waktu kita tapi apabila kita mau melakukannya maka semua bisa kita kerjakan.”
“Oh bukan begitu maksudnya. Apa yang ingin saya sampaikan adalah…”kata dosen itu sambil menatap satu per satu mahasiswanya,” kenyataan dari ilustrasi itu yaitu apabila kita tidak pernah memasukkan “batu besar” itu terlebih dahulu maka kita tidak akan bisa memasukkan semuanya….”
Terdapat Renungan di dalamnya:
Apa maksud “batu besar” tersebut dalam hidup Anda? Pekerjaan, keluarga, anak-anak, pasangan hidup, waktu untuk memberi perhatian kepada orang lain, mendengarkan orang lain, peduli terhadap orang lain, melakukan pekerjaan yang dicintai, kesehatan Anda, teman atau semua yang berharga.
Ingatlah untuk selalu memasukkan “batu besar” terlebih dahulu atau Anda akan kehilangan semuanya. Bila Anda mulai mengisinya dengan hal-hal kecil (kerikil, pasir dan air) maka hidup Anda akan dipenuhi dengan hal-hal kecil yang merisaukan dan ini sebenarnya tidak perlu terjadi. karena dengan begitu Anda tidak akan pernah memiliki waktu yang besar untuk melakukan hal-hal lain yang lebih besar dan berguna.
Karena itu pikirkanlah dan ingatlah setiap awal hari sebelum Anda akan mulai melakukan sesuatu: Apakah “batu besar” yang hari ini akan saya kerjakan pertama kali?

 

 

Popularity: 2% [?]

BERLAYAR MENUJU PANTAI HARAPAN

 

Anda adalah perahu kokoh yang sanggup menahan beban, terbuat dari kayu terbaik, dengan layar gagah menentang angin. Kesejatian anda adalah berlayar mengarungi samudra, menembus badai dan menemukan pantai harapan. Sehebat apapun perahu diciptakan tak ada gunanya bila hanya tertambat di dermaga.
Dermaga adalah masa lalu anda. Tali penambat itu adalah ketakutan dan penyesalan anda. Jangan buang percuma seluruh daya kekuatan yang dianugrahkan pada anda. Jangan biarkan masa lalu menambat anda di siti. Lepaskan diri anda dari ketakutan dan penyesalan. Berlayarlah. Bekerjalah.
Yang memisahkan perahu dengan pantai harapan adalah topan badai, gelombang dan batu karang. Yang memisahkan anda dengan keberhasilan adalah masalah yang menantang. Di situlah tanda kesejatian teruji. Hakikatnya perahu adalah berlayar menembus segala rintangan. Hakikat diri anda adalah berkarya menemukan kebahagiaan.

Popularity: 1% [?]

PAKU DAN MARAH

 

Suatu ketika ada seorang anak laki-laki yang bersifat pemarah. Ayahnya berusaha keras untuk membuang sifat buruk anaknya. Suatu hari ia memanggil anaknya dan memberinya sekantong paku. Paku? Ya, paku !
Sang anak heran. Tapi, bibir ayahnya justru membentuk senyum bijak. Dengan suaranya yang lembut ia berkata kepada anaknya agar memakukan sebuah paku dipagar belakang rumah setiap kali marah. Ajaib! Di hari pertama, sang anak menancapkan 48 paku ! Begitu juga hari kedua, ketiga dan beberapa hari selanjutnya. Tapi, tak berlangsung lama. Setelah itu jumlah paku yang tertancap berkurang secara bertahap. Ia menemukan fakta bahwa lebih mudah menahan amarahnya dari pada memakukan begitu banyak paku ke pagar. Akhirnya, kesadaran itu membuahkan hasil. Si anak telah bisa mengendalikan amarahnya dan tidak cepat kehilangan kesabaran. Ia bergegas memberitahukan hal itu kepada ayahnya. Sang ayah tersenyum. Kemudian meminta si anak agar mencabut satu paku untuk setiap hari di mana dia tidak marah. Hari-hari berlalu dan anak laki-laki itu akhirnya berhasil mencabut semua paku yang pernah ditancapkannya. Ia bergegas melaporkan kabar gembira kepada ayahnya. Sang Ayah bangkit dari duduknya dan menuntun si anak melihat pagar di belakang rumah itu. “Hmm, kamu telah berhasil dengan baik anakku. Tapi, lihatlah lubang-lubang dipagar ini. PAgar ini tidak akan pernah sama seperti sebelumnya,” kata si ayah bijak. Sang ayah sengaja memotong kalimatnya pendek-pendek agar si anak bisa mencerna maksudnya dengan baik. Si anak menatap ayahnya dengan sikap menunggu apa kelanjutan ujaran anaknya itu. “ Ketika kamu melontarkan sesuatu dalam kemarahan, kata-katamu itu meninggalkan bekas seperti lubang ini di hati orang lain. Kamu dapat menusukkan pisau kepada seseorang, lalu mencabut pisau itu. Tetapi, tidak peduli brapa kali kamu akan meminta maaf, luka itu akan tetap ada. Dan, luka karena kata-kata adalah sama buruknya dengan luka fisik, “ ucap sang ayah lembut namun sarat. Sang anak membalas tatapan lembut ayahnya dengan mata berkaca-kaca. Pelajaran yang diberikan ayahnya begitu tajam menghujam relung hatinya. Teman, saling memaafkan mungkin bisa mengobati banyak hal. Tapi, akan sirna maknanya saat kita mengulang kesalahan serupa. Padahal, lubang bekas cabutan paku yang sebelumnya masih menganga. Jadi berhati-hatilah teman

 

 

Popularity: 2% [?]

KETEKUNAN ADALAH KEKUATAN ANDA

 

Apa yang anda raih sekarang adalah hasil usaha-usaha kecil yang andalakukan terus-menerus. Keberhasilan bukan sesuatu yang turun begitu saja.bila anda yakin pada tujuan dan jalan anda, maka anda harus memiliki ketekunan untuk tetap berusaha.
Ketekunan adalah kemampuan anda untuk bertahan di tengah tekanan dan kesulitan. Anda harus tetap mengambil langkah selanjutnya. Jangan hanya berhenti di langkah pertama. Memang semakin jauh anda berjalan semakin banyak rintangan yang menghadang. Banyangkan andai saja kemarin anda berhenti maka anda tidak akan berada disini sekarang.
Setiap langkah menaikkan nilai diri anda. Apapun yang anda lakukan jangan sampai kehilangan ketekunan anda. Karena ketekunan adalah daya tahan anda.
Pepatah mangatakan bahwa ribuan kilometer langkah dimulai dengan satu langkah. Sebuah langkah besar, sebenarnya terdiri dari langkah-langkah kecil.
Dan langkah pertama keberhasilan harus anda mulai dari rumah anda. Rumah anda yang paling baik adalah hati anda. Itulah sebaik-baiknya tempat untuk memulai dan untuk kembali. Karena itu mulailah kemajuan anda denagn memajukan hati anda, kemudian pikiran anda dan usaha-usaha anda.
Ketekunan hadir bila apa yang anda lakukan benar-benar dari hati anda.

 

Popularity: 1% [?]

MEMBERI TANPA PERTIMBANGAN

Cobalah untuk mengawali suatu hari anda degnan niat untuk memeberi. Mulailah dengan sesuatu yang kecil yang tak terlalu berharga di mata anda. Mulailah dari uang receh. Kumpulkan beberapa recah yang mungkin tercecer di sana-sini, hanya untuk satu tujuan : diberikan. Apakah anda sedang berada di bis kota yang panas, lalu datang pengamen bernyanyi memekakkan telinga atau, anda sedang berada dalam mobil ber-ac yang sejuk, lalu sepasang tangan kecil mengetuk meminta-minta.

Tak peduli bagaimana pendapat anda tentang kemalasan, kemiskinan dan lain sebagainya. Tak perlu banyak pikir, segera berikan satu dua keping pada mereka. Barangkali ada rasa neggan dan kesal. Tekanlah perasaan itu seiring dengan pemberian anda. Bukankah, tak seorang pun ingin memurukkan dirinya menjadi pengemis. Ingat, kali ini anda hanya sedang “berlatih” memberi, mengulurkan tangan dengan jumlah yang tiada berarti?
Rasakan saja, kini sesuatau mengalir dari dalam diri melalui telapak tangan anda. Sesuatu itu bernama kasih sayang.
Memberi tanpa pertimbangan bagai menyingkirkan batu penghambat arus sungai. Arus sungai adalah rasa kasih dari dalam diri. Sedangkan batu adalah kepentingan yang berpusat pada diri sendiri. Sesungguhnya, bukan receh atau berlian yang anda berikan.Kemurahan itu tidak terletak di tangan, melainkan di hati.

Cobalah untuk mengawali suatu hari anda degnan niat untuk memeberi. Mulailah dengan sesuatu yang kecil yang tak terlalu berharga di mata anda. Mulailah dari uang receh. Kumpulkan beberapa recah yang mungkin tercecer di sana-sini, hanya untuk satu tujuan : diberikan. Apakah anda sedang berada di bis kota yang panas, lalu datang pengamen bernyanyi memekakkan telinga atau, anda sedang berada dalam mobil ber-ac yang sejuk, lalu sepasang tangan kecil mengetuk meminta-minta.

 

Tak peduli bagaimana pendapat anda tentang kemalasan, kemiskinan dan lain sebagainya. Tak perlu banyak pikir, segera berikan satu dua keping pada mereka. Barangkali ada rasa neggan dan kesal. Tekanlah perasaan itu seiring dengan pemberian anda. Bukankah, tak seorang pun ingin memurukkan dirinya menjadi pengemis. Ingat, kali ini anda hanya sedang “berlatih” memberi, mengulurkan tangan dengan jumlah yang tiada berarti?

Rasakan saja, kini sesuatau mengalir dari dalam diri melalui telapak tangan anda. Sesuatu itu bernama kasih sayang.

 

Memberi tanpa pertimbangan bagai menyingkirkan batu penghambat arus sungai. Arus sungai adalah rasa kasih dari dalam diri. Sedangkan batu adalah kepentingan yang berpusat pada diri sendiri. Sesungguhnya, bukan receh atau berlian yang anda berikan.Kemurahan itu tidak terletak di tangan, melainkan di hati.

 

 

Popularity: 2% [?]

MAWAR UNTUK IBU

Seorang pria berhenti di toko bunga untuk memesan seikat karangan bunga yang akan dipaketkan pada sang ibu yang tinggal sejauh 250 km darinya. Begitu keluar dari mobilnya, ia melihat seorang gadis kecil berdiri di trotoar jalan sambil menangis tersedu-sedu. Pria itu menanyainya kenapa dan dijawab oleh gadis kecil, “Saya ingin membeli setangkai bunga mawar merah untuk ibu saya. Tapi saya cuma punya uang lima ratus saja, sedangkan harga mawar itu seribu.”

Pria itu tersenyum dan berkata, “Ayo ikut, aku akan membelikanmu bunga yang kau mau.” Kemudian ia membelikan gadis kecil itu setangkai mawar merah, sekaligus memesankan karangan bunga untuk dikirimkan ke ibunya.

Ketika selesai dan hendak pulang, ia menawarkan diri untuk mengantar gadis kecil itu pulang ke rumah. Gadis kecil itu melonjak gembira, katanya, “Ya tentu saja. Maukah anda mengantarkan ke tempat ibu saya?”

Kemudian mereka berdua menuju ke tempat yang ditunjukkan gadis kecil itu, yaitu pemakaman umum, dimana lalu gadis kecil itu meletakkan bunganya pada sebuah kuburan yang masih basah.

Melihat hal ini, hati pria itu menjadi trenyuh dan teringat sesuatu. Bergegas, ia kembali menuju ke toko bunga tadi dan membatalkan kirimannya. Ia mengambil karangan bunga yang dipesannya dan mengendarai sendiri kendaraannya sejauh 250 km menuju rumah ibunya.

Popularity: 2% [?]

MISI HIDUP DALAM SEBUAH KERJA

Seorang wanita tua,bertubuh gemuk, dengan senyum jenaka di sela-sela pipinya yang bulat, duduk menggelar nasi bungkus dagangannya. Segera saja beberapa pekerja bangunan dan kuli angkut yang sudah menunggu sejak tadi mengerubungi dan membuatnya sibuk meladeni. Bagi merekaa menu dan rasa bukan soal, yang terpenting adalah harganya yang luar biasa murah. Hampir mustahil ada orang yang bisa berdagang dengan harga sedemikian rendah. Lalu apa untungnya? wanita itu terkekeh menjawab, ” Bisa numpang makan dan beli sedikit sabun” tapi bukankan ia bisa menaikan harga sedikit? sekali lagi ia terkekeh, “lalu bagaimana kuli-kuli itu bisa beli? siapa yang mau menyediakan sarapan buat mereka?” katanya sambil menunjukan para lelaki yang kini berlompatan ke atas truk pengantar mereka ke tempat kerja.

Ah..! betapa cantiknya, bila sebongkah misi hidup dipadukan dalam sebuah kerja. Orang-orang yang memahami benar kehadiran karyanya, sebagaimana wanita tua diatas, yang bekerja demi setitik kesejahteraan hidup manusia, adalah tiang penyangga yang menahan langit agar tidak runtuh. Merekalah beludru halus yang membuat jalan hidup yang tampak keras berbatu ini menjadi lembut bahkan mengobati luka. Bukankan demikian tugas kita dalam kerja; menghadirkan secercah kesejahteraan bagi sesama.

Popularity: 2% [?]

TEMUKAN CINTA ANDA dan CINTAI PEKERJAAN ANDA

Bila anda tak mencintai pekerjaan anda,maka cintailah orang yang bekerja disana,Rasakan kegembiraan dari pertemanan itu.dan pekerjaan pun jadi menggembirakan,Bila anda tak mencitai rekan-rekan kerja anda maka cintailah suasana dan gedung kantor anda.

ini mendorong anda untuk bergairah berangkat kerja dan melakukan tugas-tugas dengan lebih baikl lagi,Bila toh anda juga tidak bisa melakukanya,citailah setiap pengalaman pulang pergi dari dan ketempat kerja anda.

perjalanan yang menyenangkan menjadi tujuan tampak menyenangkan juga,Namun bila anda tak menemukan kesenangan disana,makan cintai apapun yang bisa anda cintai dari kerja anda tanaman pengihas meja,cicak di atas dinding atau gumapalan awan dari balik jendela.Apa saja,Bila anda tak menemukan yang bisa anda cintai dari pekerjaan anda,makan mengapa anda ada di situ?,tak ada alasan bagi anda untuk tetap bertahan.

Cepat pergi dan carilah apa yang cintai.lalu bekerjalah di sana, Hidup hanya sekali tak ada yang lebih indah sekali melakukan dengan rasa cinta yang tulus.

Popularity: 1% [?]

GARAM DAN TELAGA

Suatu ketika, hiduplah seorang tua yang bijak. Pada suatu pagi, datanglah seorang anak muda yang sedang dirundung banyak masalah. Langkahnya gontai dan air muka yang ruwet. Tamu itu, memang tampak seperti orang yang tak bahagia. Tanpa Membuang waktu, orang itu menceritakan semua masalahnya.

Pak Tua yang bijak, hanya mendengarkannya dengan seksama. Ia lalu mengambil segenggam garam, dan meminta tamunya untuk mengambil segelas air. Ditaburkannya garam itu kedalam gelas, lalu diaduknya perlahan. “Coba, minum ini, dan katakan bagaimana rasanya..”, ujar Pak tua itu.

“Pahit. Pahit sekali”, jawab sang tamu, sambil meludah kesamping. Pak Tua itu, sedikit tersenyum. Ia, lalu mengajak tamunya ini, untuk berjalan ke tepi telaga di dalam hutan dekat tempat tinggalnya. Kedua orang itu berjalan berdampingan, dan akhirnya sampailah mereka ke tepi telaga yang tenang itu. Pak Tua itu, lalu kembali menaburkan segenggam garam, ke dalam telaga itu. Dengan sepotong kayu, dibuatnya gelombang mengaduk-aduk dan tercipta riak air, mengusik ketenangan telaga itu.

“Coba, ambil air dari telaga ini, dan minumlah”. Saat tamu itu selesai mereguk air itu, Pak Tua berkata lagi, Bagaimana rasanya?”. “Segar.”, sahut tamunya. “Apakah kamu merasakan garam di dalam air itu?”, tanya Pak Tua lagi. “Tidak”, jawab si anak muda. Dengan bijak, Pak Tua itu menepuk-nepuk punggung si anak muda. Ia lalu mengajaknya duduk berhadapan, bersimpuh di samping telaga itu.

“Anak muda, dengarlah. Pahitnya kehidupan, adalah layaknya segenggam garam, tak lebih dan tak kurang. Jumlah dan rasa pahit itu adalah sama, dan memang akan tetap sama”. “Tapi, kepahitan yang kita rasakan, akan sangat tergantung dari wadah yang kita miliki. Kepahitan itu, akan didasarkan dari perasaan tempat kita meletakkan segalanya. Itu semua akan tergantung ! pada hati kita. Jadi, saat kamu merasakan kepahitan dan kegagalan dalam hidup, hanya ada satu hal yang bisa kamu lakukan. Lapangkanlah dadamu menerima semuanya. Luaskanlah hatimu untuk menampung setiap kepahitan itu”.

Pak Tua itu lalu kembali memberikan nasehat.”Hatimu, adalah wadah itu. Perasaanmu adalah tempat itu. Kalbumu, adalah tempat kamu menampung segalanya. Jadi, jangan jadikan hatimu itu seperti gelas, buatlah laksanatelaga yang mampu meredam setiap kepahitan itu dan merubahnya menjadi kesegaran dan kebahagiaan”.

Popularity: 1% [?]