CHANGE OUR MIND SET (7)

Kisah Si Ucok ini menjadi bagian ke-7 “Bab VII” dari tulisan “Change Our Mind Set” karena penulis sangat kagum dengan sikap tanggung jawab, kerja keras dan pantang menyerah dari sesorang yang dalam cerita ini penulis menyebut namanya dengan “Si-Ucok”,  selamat menikmati:

SI UCOK

“Banyak kegagalan dalam hidup ini dikarenakan orang-orang tidak menyadari betapa dekatnya mereka dengan keberhasilan saat mereka menyerah” – Thomas Alva Edison

Hidup ini sangatlah indah, sungguh sayang karena terlalu banyak waktu yang kita buang secara sia-sia. Tuhan menciptakan kita agar kita menjadi manusia produktif yanga kaya dengan inovasi dan kreasi. Sayang, sungguh disayangkan belakangan ini kita banyak mendengar tentang betapa cepatnya orang mengambil keputusan untuk mengakhiri hidupnya hanya karena dilanda musibah-kecewa-putus asa dan berbagai macam alasan lainnya, yang sebenarnya sederhana namun nekad untuk mengakhiri hidupnya.

Coba kita perhatikan, kita simak dan kita resapi suara burung yang bangun lebih pagi dari kita, berkicau riang untuk memulai harinya yang indah, terbang rendah diantara pepohonan berliuk dan menari-nari kecil berlomba dengan sesamanya untuk memulai hari dengan gembira riang.

Kita pasti merasa senang dengan melihat pemandangan itu semua, kita merasa bahagia-tentram karena harmonisasi irama gerakan yang dimainkan oleh burung tersebut, kadang-kadang terbesit dalam hati kita, oh…indahnnya burung itu. Tapi jangan salah sangka bahwa ternyata burung yang lemah gemulai tersebut dapat terbang melintasi samudra dan benua, mampu melakukan migrasi diluar dari perkiraan kita, bahkan burung tersebut sangat ditakutkan oleh para pilot pesawat terbang ketika mereka terbang secara berkelompok.

Untuk membangkitkan kita punya semangat dan gairah untuk berkarya dan berdaya, saya punya kisah tentang si Ucok. dia perantau dari Medan. Dia jauh-jauh dari Medan ke Pekanbaru dengan hanya bermodalkan nekad walaupun tubuhnya kecil, dengan warna kulit sawo matang, namun jika Ucok tersenyum sangat indah untuk dilihat, nampak ketulusan hati dari dalam dirinya terpancar.

Ucok telah menjadi tulang punggung keluarga sejak SMA. Ucok ditinggal mati oleh bapaknya ketika dia memasuki jenjang kelas 3 SMA. Untuk meneruskan sekolahnya yang sebentar lagi beres, dia harus berfikir keras karena ternyata dia juga harus memperhatikan nasib adik-adiknya yang berjumlah 3 orang yang masih duduk di bangku Sekolah Dasar, Untuk mengambil apakah adik-adknya akan terus melanjutkan sekolahnya tapi ucok yang mengalah dan berhenti sekolah atau sebaliknya dia sekolah tapi kedua adiknya berhenti sekolah. Situasi ini sangat berat apalagi harus ditanggung oleh Ucok yang usianya masih remaja. Namun seberat apapun persoalan keputusan harus tetap di ambil walaupun Ucok harus mengambil keputusan yang bijaksana sebagai anak tertua dia mempunyai tanggung jawab yang besar untuk membantu ibunya dan menjaga adik-adiknya akhirnya Ucok mengalah.

Untuk meringankan beban ibunya akhirnya si Ucok nekat untuk keluar kota Medan mencari tempat berlabuh. Setelah minta restu dari ibunya, Ucok pun nekat pergi ke kota Pekanbaru dengan modal 300 ribu rupiah Ucok pun berangkat ke kota baru, kota yang belum bisa dia bayangkan seperti apa, apakah ia bisa bertahan hidup atau harus menelan kekalahan di kota orang. Sesampainya di bus terminal, Allhamdulillah Ucok bertemu dengan teman lamanya yang bekerja di bus antar kota di kota Pekanbaru. Sejak saat itu dimulailah petualangan baru Ucok di kota perantauan.

Petualangan pertamanya ini tidak langsung berjalan yang seperti yang diharapkan, 3 bulan lamanya dulu Ucok menumpang bersama temannya membantu bekerja di tempat mangkal bus kota. Setelah lama berkeliling berusaha dan berdoa akhirnya Ucok di terima bekerja di sebuah bengkel motor dengan masa percobaan awal 3 bulan pertama, apakah dia bisa melewatinya atau terpaksa Ucok harus diberhentikan. 3 bulan, ternyata terlewati dengan baik hari-harinya, dilewati dengan bekerja keras bersungguh-sungguh dan sepenuh hati. Tapi cobaan tidak berhenti samapi di sini, si Ucok harus menerima kenyataan, ternyata selama 2 tahun bekerja di bengkel motor ini, si Ucok tidak pernah di beri gaji, tapi anehnya Ucok masih bisa makan dan membeli beberapa buah pakaian, bisa juga pulang kampung ke Medan ketika lebaran tiba, memberikan beberapa uang tambahan kepada ibunya tercinta dan adik-adiknya tersayang.

Kecewakah Ucok selama 2 tahun bekerja keras bersungguh-sungguh tapi tidak pernah dibayar oleh majikannya?, iya dia kecewa tapi si Ucok tidak putus asa, dia tidak serta merta langsung patah arang dengan modal nekat lagi, dia ngelamar sana-sini dan akhirnya diterimalah Ucok menjadi supir angkutan bahan bangunan. Luar biasanya lagi, si Ucok langsung menjadi supir dan di percaya oleh majikannya, sudah hampir 5 bulan lebih dia bekerja di tempat itu, senyum si Ucok sangat menggembirakan ketika kita berbincang dengan Ucok, dia sama sekali tidak mempunyai beban dalam dirinya, dia sangat menikmati kehidupannya.

Awalnya kami mengira Ucok ini umurnya masih 17 tahun namun ternyata umurnya telah menginjak usia 20 tahunan, mungkin karena hatinya yang selalu gembira, senyumnya selalu merekah, itu sebabnya Ucok nampak lebih muda dari usianya. Ucok melambaikan tangan kepada kami saat akan melakukan perpisahan dengan senyuman khasnya dia melepas kami di rumah Ibu kost.

Ditulis oleh : ASHAR HAFIDAH <ashar_arc@yahoo.com>

Popularity: 2% [?]

Artikel Terkait

  1. CHANGE OUR MIND SET (15)
  2. CHANGE OUR MIND SET (3)
  3. CHANGE OUR MIND SET (9)
  4. CHANGE OUR MIND SET (4)
  5. CHANGE OUR MIND SET (5)
  6. CHANGE OUR MIND SET (13)
  7. CHANGE OUR MIND SET (12)
  8. CHANGE OUR MIND SET (10)
  9. CHANGE OUR MIND SET (14)
  10. CHANGE OUR MIND SET (11)
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply