CHANGE OUR MIND SET (19)

LIFE WITH YOUR DREAM

Jika sempat jalan-jalan ke kota Pangandaran coba tanyakan siapa Ibu pangandaran, tertulah semua suara akan sama bahwa Ibu yang dimaksud adalah Susi Pudjiastuti, seorang sosok pebisnis tangguh yang memulai usahanya dari nol. Ibu Susi juga tidak pernah mengenyam pendidikan tinggi dia hanya lulusan SMP, yang ketika SMA di drop out dari sekolah. Dengan berbekal modal 750 Ribu hasil menjual gelang, kalung, dan cincin miliknya, Susi mulai menjadi pengepul ikan pada tahaun 1983. Awal mulai usahanya dijalankan, dia hanya mampu membeli 1 kg ikan, besoknya mulai meningkat menjadi 2 kg, kemudian terus meningkat volume pembeliannya. Karena keuletan Ibu susi dalam waktu hanya satu tahun, ia sudah menembus pasar besar Cilacap, Jawa Barat.

Dari keuntungan yang ia tabung, Susi kemudian membuka usaha sewa-menyewa perahu serta mobil angkutan hasil-laut bagi para nelayan. Kini ibu susi telah memiliki ratusan perahu nelayan dan truk. Bu Susi memulai semua aktifitasnya setiap harinya mulai pada pukul 15.00, ia ke Jakarta untuk setor. Di tengah jalan, ia mampir ke Cikampek untuk mengambil kodok. Sampai di Jakarta malam. Setelah mandi dan istirahat ia langsung balik ke Pangandaran itulah aktifitas hariannya ketika usahanya mulai dikembangkan. Selama bertahun-tahun ia harus mendampingi pasokannya menempuh jarak ratusan kilometer pulang-pergi.

Pada tahun 1996 pasar lobster menjadi overload pabrik-pabrik yang semula menjadi pengumpul hasil laut dari bu susi banyak yang mempermainkan harga, dengan kejadian tersebut bu susi kembali memberanikan diri untuk langsung mengekspor hasil lautnya itu. Karena permintaan yang cukup tinggi dari pasar luar negeri maka Bu Susi nekad membeli dua pesawat Cessna Grand Caravan buatan Amerika Serikat pada tahun 2004, dan ternyata buah dari kenekatannya tesebut pemintaan dari luar negeri semakin banyak.

Untuk urusan kenayaman kerja dan meningkatkan produktifitas karyawannya Bu susi tidak tanggung-tanggung mendirikan pabrik yang mempunyai fasilitas yang sangat modern, yang disainnya bangunanya dibuat menyerupai mall. Nilai Omzet juga dalam jumlah yang sangat besar, yang pada saat awal pendirian PT ASI Pudjiastuti hanya sekitar US$ 2 juta membengkak, menjadi US$5 juta pertahun.

Ternyata untuk dalam menjalani kehidupan, kita harus berani berminmpi untuk menwujudkan hal-hal besar dalam hidup kita. Sama halnya dengan Ibu Susi, dengan impian yang besar dibarengi dengan keuletan yang tinggi, perempuan yang dulunya hanya menjual ikan dengan bakulan itu, kini telah menjual ikannya dengan pesawat terbang ke berbagai belahan dunia.

Kisah yang sama dialami oleh penjaga sekolah saya sewaktu masih duduk di sekolah dasar. Bapak tersebut hanya menjadi pesuruh biasa di sekolah, nasibnya berubah menjadi pengawas sekolah, yang bertugas mengawasi kinerja kepala sekolah yang ada di wilayahnya. Padahal pada awalnya dia hanyalah penjaga sekolah yang hanya bertugas sebagai “office boy”. Nama bapak penjaga sekolah itu adalah Dg.Nai* Senyuman yang khas dan sambutan yang selalu hangat tak akan pernah kami lupakan setiap siswa yang pernah sekolah di sekolah ini pasti mengenal dengan baik Dg.Nai.

Singkat cerita karena sikap yang ditunjukkan, dirinya penuh dengan nilai-nilai positif serta kerajinan dan ketekunan, maka pihak sekolah menjadikannya pegawai negeri untuk menjadi pesuruh sekolah. Setelah di angkat menjadi pegawai Dg.Nai tidak menyia-nyiakan waktu yang tertinggal, dia memutuskan untuk melanjutkan pendidikan di D3, setammatnya di D3 Dg.Nai mulai mengajar anak-anak SD dan warungnya pun masih tetap buka. Lama berselang Dg.Nai masih terobsesi dengan mimpinya untuk menjadi seorang pengawas sekolah atau disebut dengan penile sekolah.

Sampai suatu ketika ada pengumuman penerimaan pegai khusus menjadi pengawas. Dengan modal tekad dan semangat dia yakin untuk lolos seleksi ditingkat propinsi. Padahal lowongan yang tersedia bisa dihitung jari sementara jumlah peserta yang terjaring mencapai ratiusan orang dengan jabatan rata-rata peserta adalah orang-orang yang telah menjadi kepala sekolah.

Ternyata Dg.Nai tidak ciut nyali sebaliknya dai bertabah semangat dan yakin bahwa dia akan terangkat menjadi pengawas. Semua orang menertawakan terhadap apa yang dicita-citakan Dg.Nai apalagi jika melihat latar belakang pendidikanny dengan modal pengalaman yang belum terlalu lama. Namun jawaban Dg.Nai jika mendapat ledekan dari teman-temannya Kita lihat saja nanti siapa yang akan tertawa.

Setiap malam Dg.Nai bangun sholat malam untuk mengajukan proposal kepada Allah untuk diangkat menjadi pengawas kepala sekolah. Karena doanya yang terus-menerus akhirnya Dg.Nai lulus seleksi dan diangkat menjadi pengawas sekolah, dia mengalahkan pesaing-pesaingnya yang rata-rata pernah menjabat kepala sekolah. Satu pesannya kepada saya ketika akan kembali ke Jakarta, bahwa hiduplah dengan mimpimu jangan pernah mematikan mimpimu.

Mungkin sama halnya dengan para kontestan Indonesian Idol yang memimpikan menjadi idola baru yang dan dipuja banyak orang, anda juga tentunya sering menyaksikan Indonesian Idol, pada penampilan kontestannya rata-rata masih muda dengan wajah dananan yang menarik, namun hal tersebut tidak berlaku di Inggris sewaktu diadakan konteas Britian Got Talent sama seperti American Idol, “Susan Boyle 47 tahun” saat berdiri di atas pangung Nampak seperti wanita yang datang dari kampung, jauh dari dandanan kelas artis, dia gemuk kikuk dan penampilan panggungnya pas-pasan, pada saat berdiri di atas panggung semua orang yang hadir pada tempat itu ingin melewatkan saja penampilan Susan. Namun semua keraguan tersebut dibalas oleh Susan, sewaktu mulai menyanyikan lagu opera, “I Dreamed a Dream” dari Les Miserables, semua mata menjadi takjub, suaranya yang sangat indah, sangat merdu, membuat para penonton berulang-ulang berdiri memberi tepuk tangan. Para juri Cowell, Piers Morgan, dan Amanda Holden, ikut terngaga mendengar suara menakjubkan Susan Boyle. Karena suara emas yang khas yang dimilikinya tersebut, dalam sekejap Susan Boyle menjadadak menjadi celebrity dunia. Puluhan juta orang di seluruh belahan dunia dibuat penasaran mereka ramai-ramai menyaksikan penampilannya pada situs You Tube.

Tidak tanggung-tanggung ABC News, CBS, CNN, station televisi ternama ini sampai berebut ingin mewawancarai Susan Boyle. Dari penelusuran mereka, termasuk laporan CBS ketika meliput langsung ke kediaman Susan Boyle di Blacburn Skotlandia, Susan Boyle merupakan sosok wanita sederhana yang aktif dalam kegiatan Gereja. Tidak ketinggalan Oprah Winfrey sudah mengundangnya datang untuk duduk di sofanya dalam acara yang ditonton di seluruh dunia. Ia memang memiliki cerita hidup yang layak diceritakan di Oprah Winfrey Show. Bukan hanya penampilan yang tidak “ngartis” tapi juga kehidupan sendiri yang cukup dramatis.

Pada awal kelahirannya Susan sempat kehabisan oksigen dan membuat perkembangan otak sedikit abnormal. Begitu pula saat disekolah dia menjadi murid yang terbelakang dan menjadi bahan ejekan teman-temannya. Pernah suatu ketika sekitar 14 tahun silam Susan juga ikut audisi acara televisi My Kind of People, namun ia begitu grogi sehingga gagal. Karena cintanya pada dunia tarik suara Susan Boyle rela untuk belajar dari seorang guru vokal, Fred O’Neil. Dari hasil belajarnya tersebut satu dekade silam, Susan pernah melakukan rekaman lagu dengan judul “Cry Me a River”. Album tersebut ditujukan sebagai peringatan pergantian milenium di kampung asalnya. Satu hal yang menjadi motivasi terbesar Susan pada dunia tark suara adalah kerena almarhum Ibunya tercinta. Pentas pertama setelah ibunya meninggal adalah di depan Simon Cowell yang mengguncangkan dunia itu. Sesaat sebelum tampil, Cowell sempat bertanya tentang umur dan hal-hal kecil lain. Boyle mengaku belum pernah pacaran. Ciuman juga belum pernah. Sekarang juga tinggal hanya dengan seekor kucing di rumahnya.

Ternyata kehebatan sebuah mimpi bisa menwujudkan hal-hal diluar dari daya imaginasi kita, karena mampu mengubah impian menjadi sebuah kenyatan, kita tentunya takkan sedikitpun melewatkan waktu untuk mengejar impian tersebut, tanpa pernah mengenal rasa lelah dan kalah untuk mendapatkan semuanya.

Ditulis oleh : ASHAR HAFIDAH <ashar_arc@yahoo.com>

Popularity: 7% [?]

Artikel Terkait

  1. CHANGE OUR MIND SET (17)
  2. CHANGE OUR MIND SET (18)
  3. CHANGE OUR MIND SET (9)
  4. CHANGE OUR MIND SET (12)
  5. CHANGE OUR MIND SET (3)
  6. CHANGE OUR MIND SET (5)
  7. CHANGE OUR MIND SET (14)
  8. CHANGE OUR MIND SET (6)
  9. CHANGE OUR MIND SET (4)
  10. CHANGE OUR MIND SET (2)
You can leave a response, or trackback from your own site.

Leave a Reply